UN dan Kejujuran

Jumat, 18 Mei 2012 | komentar (2)

UN atau Ujian Nasional memang telah usai. Namun, pelaksanaan UN membawa catatan  tersendiri bagiku. Salah satu yang menjadi catatan adalah hadirnya aparat kepolisian di sekolah untuk memantau dan mengawasi pelaksanaan ujian.  Menurutku, ini  terkesan sangat  lebay. Kesannya kita ini kayak teroris atau anggota perkumpulan sesat yang harus diawasi dengan ketat. Mungkin hanya di negara kita polisi dilibatkan secara langsung dalam pelaksanaan ujian nasional. 
Meskipun aku tidak mengikuti ujian nasional, tetapi aku dapat merasakan ketidaknyamanan kakak-kakak kelasku yang sedang mengikuti ujian.  Dan kalau itu terjadi padaku, mungkin hal tersebut  bisa mengurangi konsentrasiku dalam mengerjakan soal-soal UN.  Melihat polisi aja aku sudah grogi apalagi harus berhadapan di sekolah saat aku mengerjakan soal-soal ujian nasional.
Ujian Nasional memang harus dijaga dengan ketat.  Tetapi keterlibatan polisi di sekolah meskipun tidak masuk ke dalam ruang ujian, tidak bisa diterima. Apa memang polisi tidak ada kerjaan. Tapi itu juga tidak mungkin, karena aku pernah dengar di televisi bahwa personel kepolisian di Indonesia masih kurang banyak dibandingkan dengan pekerjaan yang harus dikerjakannya.  Jadi, ddngan mengawasi ujian sebenarnya polisi telah menelantarkan pekerjaannya.
Tapi itu semua terjadi juga karena kesalahan kita sendiri. Ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN yang dilakukan oleh panitia, pengawas maupun peserta termasuk kebocoran soal terjadi di mana-mana merupakan penyebab pak Polisi hadir di sekolah kita.  Di kalangan siswa sendiri perilaku mencontek adalah perilaku biasa untuk mendapatkan nilai bagus tanpa mau belajar.  Adanya pengawasan silang serta soal yang paket nya berbeda-beda  tidak mempunyai  pengaruh bagi siswa karena mereka selalu mencari cara untuk bisa contekan.
Sebenarnya , tanpa pengawasan dari pihak kepolisian, kejujuran  dalam UN bisa dijamin. Itu semua tergantung dari niat dan keinginan siswa sendiri. Niat adalah hal yang paling penting. Jarena kalau siswa sudah mempunyai niat yang baik maka meskipun ada kesempatan untuk tidak jujur, dia tidak akan mempergunakannya. Tetapi kalau niatnya memang tidak jujur maka meskipun tidak diberi kesempatan untuk itu. Siswa akan tetap mencarinya. Maka rasanya percuma sekolah 3 tahun dan menghabiskan dana yang tidak sedikit kalau ternyata ujung-ujungnya kita hanya pintar mencontek.
Maka, soal ujian yang paling berat yang dihadapi sebenarnya bukanlah  soal mata pelajaran matematika atau yang lainnya, melainkan,  niat yang tulus untuk berlaku jujur. Kalau kita telah mempunyai niat yang baik dan telah berlaku jujur, maka hakekatnya kita telah memperoleh kelulusan meskipun hasil dari ujian berupa mengerjakan soal tidak baik-baik amat. 







Artikel ini dibuat untuk menyelesaikan dan mengikuti lomba blog yang diadakan oleh HMPS TI Unikama 




Share this article :

+ komentar + 2 komentar

19 Mei 2012 pukul 01.02

Sudahkah adminnya jujur juga?? Hehehe
Bagus bagus :D

31 Mei 2012 pukul 16.55

insyaallah sudah... :D

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HMPS TI UNIKAMA DAN KAMPUS MULTIKULTURAL | FRIENDSHIP - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger