Kebahagiaan Itu Tak Punya Harga

Kamis, 17 Mei 2012 | komentar

 Dalam hidup, kebahagiaan memang tidak punya harga karena tidak ada harga yang pantas bagi kebahagiaan. Harta yang melimpah ruah sekalipun, tidak akan mampu membeli kebahagiaan. Kebahagiaan adalah hadiah dari Tuhan bagi setiap makhluknya.  Dan oleh karena Tuhan pemilik semua harta benda, maka Dia tidak butuh harta benda sebagai penukar kebahagiaan. Kebahagiaan itu diberikan kepada Tuhan bagi siapa saja yang memang pantas diberinya  kebahagiaan, tidak peduli dia berharta atau tidak.

Bicara tentang harta dan kebahagiaan ada kisah nyata tentang seorang wanita yang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan dengan harta yang dimilikinya. Wanita itu bernama Oei Hui Lain. Oei Hui Lan adalah putri seorang raja gula di Pulau Jawa. Dia anak kedua dari istri sah Oei Tiong Ham yang merupakan orang terkaya se-Asia Tenggara pada abad ke 18, sekaligus pendiri perusahaan multinasional pertama di Asia Tenggara. Selain dijuluki sebagai raja gula, Oei Tiong Ham  juga dikenal sebagai pemimpin masyarakat Tionghoa di Semarang. Perusahaan yang didirikannya  sampai saat  ini masih ada dan berpusat di Belanda, dikelola oleh anak bungsunya yang bernama Oei Tjong Tjay.
Oei Tiong Ham dan keluarga besarnya tinggal di kawasan Semarang, di rumah megah dengan luas sekitar 9,2 H. Rumah itu beraksitektur gaya Italia dengan 200 ruangan, villa pribadi, kebun binatang, bioskop pribadi, dan masih banyak lagi fasilitas mewah. Tak heran, jika mereka membutuhkan 40 pembantu, 50 tukang kebun, dan beberapa koki terkenal dari Cina, Melayu, maupun Eropa. Di lingkungan itulah Oei Hui Lan menikmati  kehidupan glamor dan  berlanjut hingga ia menikah dengan Wellington Koo, seorang diplomat yang menjadi tokoh revolusi di Cina.
Meskipun hidup dengan bergelimang harta, namun Oei Tiong Ham merasa sangat kesepian di masa tuanya. Ia  merasa keluarga besarnya tidak sungguh-sungguh menyayanginya. Mereka hanya menginginkan hartanya. Hanya Oei Hui Lan lah satu-satunya anaknya yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Oleh karena itu, harta warisan lebih banyak jatuh ke tangan Oei Hu Lan daripada anak-anak lainnya.
Tapi, untung tak dapat ditolak malang tak dapat diraih.   Meskipun telah diwarisi oleh harta yang melimpah oleh ayahnya, Oei Hui Lan tidak merasakan kebahagiaan. Wellington Koo, suaminya sering sellingkuh dengan wanita lain. Oei Hui Lain sendiri juga jatuh dalam cara hidup yang boros sehingga harta yang melimpah isi dari ayahnya habis ludes tanpa sisa. Oei Hui Lan kemudian  menghilang tidak lagi terdengar kabarnya.  Sementara itu, keluarganya tidak memperdulikannya karena mereka juga sibuk bersengketa tentang harta peninggalan Oei Tiong Ham. Konon, perselisihan itu sampai saat ini masih berlangsung.
Kisah nyata tersebut dapat kita ambil hikmah bahwa, kebahagiaan tak dapat dibeli dengan harta. Karena kunci kebahagiaan itu adalah cinta, syukur, dan mau memberi .  Kesenangan yang ditimbulkan oleh harta adalah kebahagiaan semu yang suatu saat akan hilang seperti ungkapan “tak ada pesta yang tak berakhir.”




Artikel ini dibuat untuk menyelesaikan dan mengikuti lomba blog yang diadakan oleh HMPS TI Unikama
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. HMPS TI UNIKAMA DAN KAMPUS MULTIKULTURAL | FRIENDSHIP - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger